Sunday, May 7, 2017
RASA UNIK KOPI SUNDOL DARI PADANG LAWAS
Dengan menggunakan alat yang masih sederhana, pembuatan bubuk kopi di Desa Sundol, Kecamatan Sosopan, Kabupaten Padang Lawas, Sumatera Utara, hingga kini masih tetap bertahan.
Meskipun sudah berdiri sejak puluhan tahun silam, dengan menggunakan alat sederhana berupa potongan drum, untuk memasak biji kopi dan alat penggiling yang sederhana pula usaha ini tetap bergulir. Biji-biji kopi yang telah dikumpulkan kemudian dipanaskan menggunakan kayu bakar dan diputar dengan tenaga kaki selama 20 menit, kemudian biji kopi tersebut telah dinyatakan masak pada tahap pertama.
Tak hanya sampai disitu, sebelum dimasukan ke mesin penggiling, biji kopi terlebih dahulu dijemur, hingga biji kopi tersebut layak digiling untuk menjadi bubuk kopi yang nikmat, karena jika tidak benar-benar masak, kopinya kurang terasa nikmat saat diseduh.
Dalam satu harinya usaha kopi dengan alat sederhana ini bisa menghasilkan sekitara 300 kilogram kopi bubuk dengan kemasan 250 gram dan 500 gram. Untuk kemasan 250 gram dijual dengan harga Rp 10.000 per bungkus nya, sementara untuk kemasan 500 gram dijual dengan dengan harga Rp 20.000 per bungkus.
Saat ini bubuk kopi asli Desa Sundol sudah tembus ke pasaran di wilayah Medan, Padang, Pekanbaru, Padang Lawas, Padang Lawas Utara, Tapanuli Selatan, Padang Sidimpuan dan bahkan sudah mulai di pasarkan di negara tetangga, Malaysia.
“Pembuatan bubuk kopi Sundol ini merupakan usaha turun menurun, yang masih tetap bertahan hingga kini, dan kopi khas ini tetap akan dijaga kelestariannya, “ ujar si pemilik usaha kopi, Dongoran Sori Muda.
Sebenarnya usaha kopi rakyat banyak terdapa di wilayah Padang Lawas, namun masing-masing memiliki ciri khasnya. Namun untuk kopi Sundol ini sang pemiliknya mengatakan tidak mau mencampur kopinya dengan bahan lainnya. Dan ternyata hal itulah yang menjadikan kopi Sundol ini tetap bertahan hingga sekarang ini.
“ Yang membuat tetap bertahan nya bubuk kopi Sundol ini adalah keasliannya, tanpa dicampur dengan jagung atau bahan lainnya, “ tambah Dongoran
Demikian laporan dari Padang Lawas, Sumatera Utara.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
-
Aduh…..Mohon maaf ini Kahanggi / Ipar / Lae bahasanya sedikit campur campur biasa madaa… he,he, he, heee . Hasibuan natubu di Bar...
-
Pasti kalin sudah tak asing lagi jika mendengar kata nina bobo.itu adalah sebuah nyanyian pengantar tidur yg biasa di nyanyikan buat anak-a...
-
Dengan menggunakan alat yang masih sederhana, pembuatan bubuk kopi di Desa Sundol, Kecamatan Sosopan, Kabupaten Padang Lawas, Sumat...

No comments:
Post a Comment